Naufal Ramadhani dan Danish Hibatullah adalah anugerah yang tak ternilai bagi kami. Lucu, menggemaskan dan kadang bikin sebel sudah biasa tuh dirasakan. Mmmmm… tapi apa yang terjadi ya kalau mereka gak ada… mungkin dunia terasa sepi kali ya….
Mereka ada karena aku selalu yakin Allah akan memberi yang terbaik bagi hambaNya. Termasuk peristiwa saklar yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2006 di sebuah pulau ujung Kalimantan Timur. Ya… itulah tanggal bersatunya Dewi dan Dani yang uda ditakdirin menjadi ortunya Naufal dan Danish. Awalnya mereka terpisah karena pekerjaan. Namun… sekali lagi “Allah selalu memberi yang terbaik bagi HambaNya”. Alhamdulillah diberi kelancaran urusan kepindahan Dewi dari ujung pulau Kalimantan Timur ke ibu kota Kalimantan Selatan.
Memang manusia tidak ada yang sempurna, memperbaiki kesalahan dengan lebih banyak melakukan yang terbaik dalam kehidupan adalah jalan yang terbaik. Dulu-dulu yang namanya ketidak sempurnaan pasti membuat hati jengkel dan mengeluh ja…. Tapi kalau kita belajar menerimanya hidup akan lebih menyenangkan lo…. Gitu juga kalau uda punya pasangan hidup apalagi momongan.
Naufal Ramadhani lahir pada bulan Ramadhan tahun 2007, dengan berat 3 kg dan panjang 50cm. Dia lahir melalui pembelahan perut mamanya yang harus di operasi karena ketuban naufal udah buru-buru keluar sebelum waktunya. Tangisan pertama Naufal sangat nyaring and akhirnya…. Dia menjadi tenang mendengar suara adzan dari abahnya.
Naufal dirawat di Rumah Sakit selama 5 hari karena baik Naufal maupun mamanya harus dirawat dahulu. Dua minggu setelah kelahiran Naufal di harus hijrah ke Amuntai kerena disanalah kampong halaman bokapnya tersayang. Biasalah…. udah tradisikan lebaran harus pulang kampong. Merasai deh uda melakukan perjalanan jauh meskipun umurnya masih belum genap sebulan. Naufal kecil-kecil pintar lo…. dibawa bejalanan…. bobo ja bawaannya di taksi Amuntai… paling bangun bobo minta susu. Susunya susu botol ja… he… dibilang anak sapid eh si Naufal tu…
Pulang dari Amuntai betigaan ja ma mama N papanya. Karena mama N papanya harus kerja…. Kebingungan deh kemana si Naufal ditinggal selama mama N papanya kerja. Cari-cari e… gak dapat-dapat. Akhirnya minta tolong ma pak RT yang baik…. Ketemu deh ma Ibu dan Pakde yang setiap mama N papanya kerja ngasuh Naufal. Awal dititipkan Naufal nangis ja… (oe….. oe…..). Bingung Ibu dan Pakde, Alhamdulillah cumin berlangsung 3 hari. Naufalnya harus adaptasi ternyata, kebiasaan di rumahnya di komplek bagian belakang masih lumayan sepi waktu itu.
Umur 9 bulan Naufal udah ngerasain deh yang namanya naik pesawat. Mbah kung ma Mbah Putrinya yang ada di pojokan pulau Kalimantan Timur pengen ngelihat Naufal. Pergilah Naufal ma mamanya naik Mandala Air Land…. Di bandara Balikpapan Naufal udah janjian sama tante dan omnya yang juga mau ketemu sama mbah kung dan mbah putrinya. Ada teman deh Naufal uda di pesawat… diam ja Naufalnya di pesawat. Bingung kali ya… gak pernah duduk bebarengan ma banyak orang.
Ketemu mbah kung dan mbah putrinya nangis deh… semingguan baru mau digendong. Tapi kalo sama omnya mau ja… mungkin karena agak berisi badannya kali ya…. Sama kaya abahnya, he…. Naufal disana 3 mingguan ja. Merasai naik speet boat juga kecil-kecil. Namanya juga pilau dikelilingi lautan kemana-mana naik speed deh.
Kembali ke Banjarmasin Naufalnya lupa deh ma abahnya… namun Cuma berlangsung seharian. Mau deh ketawa-tawa lagi ma abahnya. Di telepon ma mbahnya juga paling ketawa-tawa ja. Tapi sekarang udah dua kali ketemu ma mbah kung dan mbah putriny kalau di telpon jawabannya “indah…..” teriak nyaring-nyaring. Terkena ‘good mood’ mau ja ngomong sama sapa ja… hp direbutin kalau mau ngomong.
Naufal tu paling suka yang namannya memen alias permen… Pernah diakali dikasih fitkom (tapi Naufal nyebutnya om Iko) e… malah minta berkali-kali. Jadinya lebih sering disembunyikan, samapai nangis nyaring banget… Makanan favorit lainnya ice cream walls. Gak perduli hari dingin
